Selamat membaca
Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW
semoga bermanfaat

Label

Translate

Powered by Blogger.

Followers

Top Commentators


Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW

Bacaan online berisi pengetahuan, fakta, dan opini tentang Islam dan akuntansi | Artikel dan gambar unik, aneh, serta lucu

Blog ini sangat memerlukan komentar anda untuk dapat terus berkembang, apapun saran dan kritik anda sangat membanggakan bagi saya untuk menerimanya | Ber-Tukar Link / Banner adalah salah satu hal yang kami tunggu | Anda dapat juga Follow Blog ini dengan klik button "join this site", dan ikuti instruksi selanjutnya | Apabila artikel di blog ini anda sukai atau dinilai bermanfaat bagi yang lain, mohon untuk membagikannya ke teman anda melalui klik tombol share (facebook dan tweeter) di bawah judul artikel, atau dengan klik "like" | Terima kasih telah mengunjungi Blog Ini || by: Resna Tazkiyatunnafs, Magetan 21-5-1991||

Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW

Maulid Nabi Muhammad SAW, Maulud Nabi, Muludan (bahasa Jawa), مولد النبي‎ (bahasa ArRab) adalah peringatan saat kelahiran Rasulullah Muhammad SAW yang di Indonesia dirayakan setiap tanggal 12 Rabiul Awal tahun hijriyah. Maulid yang berasal dari kata Milad sendiri dalan bahasa Arab memang berarti hari lahir. Tujuan dari peringatan ini dapat dikatakan sebagai penghormatan, mengingat perjuangan, dan usaha bersholawat bagi Muslim yang merayakan kepada Nabi agung mereka.
Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW
 
Masyarakat muslim di Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan seperti pembacaan shalawat nabi, pembacaan syair Barzanji dan pengajian. Menurut penanggalan Jawa bulan Rabiul Awal disebut bulan Mulud, dan acara Muludan juga dirayakan dengan perayaan dan permainan gamelan Sekaten. Selain tradisi yang dilakukan di daerah tertentu ada juga beberapa kegiatan yang dikatakan lebih modern seperti karnaval dan lomba-lomba yang dikaitkan dengan kelahiran Nabi Muhammad pada khususnya atau Islam pada umumnya.

فَالَّذِينَ آَمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
"Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-A'raf: 157)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Dan demi Zat yang jiwaku berada di tangn-Nya (Demi Allah), tidaklah beriman salah seorang kamu sehingga aku lebih ia cintai daripada diirnya, hartanya, anaknya, dan manusia seluruhnya." (HR. Al-Bukhari)

Di dalam al-Shahih disebutkan, Amirul Mukminin Umar bin al-Khathab Radhiyallahu 'Anhu berkata: "Wahai Rasulullah, demi Allah sungguh engkau adalah orang yang paling aku cintai daripada segala sesuatu kecuali diriku." Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda kepadanya, "Tidak, wahai Umar, sehingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri." Lalu Umar berkata, "Wahai Rasulullah, demi Allah sungguh engkau adalah orang yang paling aku cintai daripada segala sesuatu sehingga daripada diriku sendiri." Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menyahut, "Sekarang (baru benar) wahai Umar."

Demikianlah kita bersama tahu bahwa mencintai Rasulullah sebagai Muslim adalah keharusan. Setiap orang yang beriman, memuliakan, menolong, dan mengikutinya akan menjadi orang yang beruntung baik di dunia terlebih di akhirat.

Namun bagaimana sebenarnya sejarah perayaan Maulid Nabi itu sendiri?

Rasulullah SAW berdasar hadist tidak melakukan upacara atau seremoni tertentu di hari kelahirannya. Meskipun ada dalil hadits yang menceritakan bahwa siksaan Abu Lahab di neraka setiap hari Senin diringankan. Hal itu karena Abu Lahab ikut bergembira ketika mendengar kelahiran keponakannya, Nabi Muhammad SAW. Meski dia sediri tidak pernah mau mengakuinya sebagai Nabi. Bahkan ekspresi kegembiraannya diimplementasikan dengan cara membebaskan budaknya, Tsuwaibah, yang saat itu memberi kabar kelahiran Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.

Perkara ini dinyatakan dalam sahih Bukhari dalam kitab Nikah. Bahkan Ibnu Katsir juga membicarakannya dalam kitabnya Siratunnabi jilid 1halaman 124.

Syamsuddin Muhammad bin Nasiruddin Ad Dimasyqi menulis dalam kitabnya Mawrid as Sadi fi Mawlid al Hadi : “Jika seorang kafir yang memang dijanjikan tempatnya di neraka dan kekal di dalamnya” (surat Al Lahab ayat 111) diringankan siksa kuburnya tiap Senin, apalagi dengan hamba Allah yang seluruh hidupnya bergembira dan bersyukur dengan kehadiran Ahmad dan meninggal dengan menyebut “Ahad”?

Namun begitu tidak ditemukan perayaan khusus selama masa tiga generasi pertama Islam yang disebut sebagai generasi terbaik umat ini. Sehingga menyebabkan banyak di antara ulama yang mengingkarinya dan memasukkannya ke dalam bid'ah haram. Motivasi orang-orang yang mula-mula melakukan peringatan maulid Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam -yaitu pengikut mazhab Bathiniyyah- adalah tidak didasari rasa cinta kepada beliau, tapi untuk tujuan politis.
Pelopor pertama peringatan maulid Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah Bani Ubaid al-Qaddaah atau yang lebih dikenal dengan al-Fathimiyyun atau Bani Fathimiyyah pada pertengahan abad ke empat Hijriyah, setelah berhasil memindahkan dinasti Fathimiyah dari Maroko ke Mesir pada tahun 362 H.

Perayaan maulid diadakan untuk menarik simpati masyarakat yang mayoritasnya berada dalam kondisi ekonomi yang sangat terpuruk untuk mendukung kekuasaannya dan masuk ke dalam mazhab bathiniyahnya yang sangat menyimpang dari akidah, bahkan bertentangan dengan Islam.

Pakar sejarah yang bernama Al Maqrizy menjelaskan bahwa begitu banyak perayaan yang dilakukan oleh Fatimiyyun dalam setahun. Dan beliau menyebutkan kurang lebih 25 perayaan yang rutin dilakukan setiap tahun dalam masa kekuasaannya, termasuk di antaranya adalah peringatan maulid Nabi. Tidak hanya perayaan-perayaan Islam tapi lebih parah lagi, mereka juga mengadakan peringatan hari raya orang-orang Majusi dan Nashrani yaitu hari Nauruz (tahun baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), dan hari Khamisul ‘Adas (perayaan tiga hari sebelum Paskah).

Versi lain menyebut peringatan Maulid Nabi dirintis oleh Abu Said al-Qakburi, seorang gubernur Irbil, di Irak pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (1138-1193). Adapula yang berpendapat bahwa idenya justru berasal dari Sultan Salahuddin sendiri. Kali ini tujuannya adalah untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin saat itu, yang sedang terlibat dalam Perang Salib melawan pasukan Kristen Eropa dalam upaya memperebutkan kota Yerusalem dan sekitarnya.

Well, inilah sejarah (bukan hikayah) asal muasal terselenggaranya Perayaan Maulid Nabi SAW. Ada yang berpendapat bid`ah haram karena tidak sesuai syariah yang dilakukan Nabi dan generasi terbaik. Ada juga yang menyebutkan bid`ah hasanah atau inovasi yang baik karena dapat lebih mengenang Rasulullah dan mengisi hari dengan kegiatan positif.

So What? Kalau menurut saya orang yang memegang pakem strict terhadap bid`ah haram harusnya lebih sering menyelenggarakan kegiatan keagamaan sesuai syariah yang dapat meningkatkan keimanan. Khususnya untuk lebih mengenalkan anak-anak kepada Rasulullah. Karena ilmu agama dari sekolah (apalagi sekolah umum, terlebih sekolah internasional) saya yakin amat sangat kurang.

Perlu kita sadari karena kurikulum dan sekolah di Indonesia (yang mungkin ada juga yang menyebutnya sebagai bid`ah) tidaklah berorientasi pada moral, apalagi agama, tapi pada standar kelulusan. Banyak generasi muda sudah tidak menganggap pengajian yang mereka anggap dengan metode kuno itu menarik untuk dikunjungi. Sementara itu tidak ada pihak-pihak yang mewajibkan mereka untuk mengikuti pengajian dan semacamnya. Jadi kalau kegiatan berdasar syariah itu belum terdengar masyarakat, perayaan Maulid Nabi dapat digunakan setidaknya sebagai pengingat itu.

Namun jika orang-orang yang memegang pakem strict ini tidak peduli pada hal demikian dengan dasar "kita hanya wajib mengingatkan, memberi hidayah itu hak Allah!" atau tidak melakukan inovasi karena inovasi adalah bid`ah, bid`ah adalah kesesatan, dan kesesatan tempatnya di neraka; maka beginilah hasilnya. Apa? Anda lebih dapat memahami jika melihat kondisi generasi muda era sekarang, apalagi masa muda di masa depan.

And what? Kalau menurut saya di lain pihak yaitu bagi orang yang meletakkan perintah Rasulullah SAW di belakang excuses seperti demi kebaikan bersama; toh ulama yang lebih berilmu terdahulu juga melakukannya; atau ini kan juga kegiatan yang positif; dsb. maka berhati-hatilah. Ingatlah bahwa seorang Muslim harus meletakkan Al Quran dan Hadist sebagai dasar dari apa yang dilakukan, fatwa dan inovasi akan hal itu tidak boleh terlepas dari keduanya.

And then, Mari bersatu kawan! Umat ini telah bersatu dengan sama-sama memegang Al Quran dan As Sunnah, namun akan pecah dengan pemahaman yang berbeda-beda akan keduanya. Kenapa kita bersusah payah melakukan apa yang Rasulullah lakukan? Padahal kita telah diwajibkan mengikuti apa yang Rasulullah ajarkan kepada umatnya. Itulah pendapat saya mengenai hal ini, jauh dari sempurna, sangat mungkin salah apalagi kurang, jadi silakan nasihati saya atas apa yang saya tulis ini. Terima kasih.

Terima kasih kepada : http://id.wikipedia.org/wiki/Maulid_Nabi_Muhammad; http://www.fimadani.com/hukum-merayakan-maulid-nabi-muhammad/; http://www.voa-islam.com/islamia/tsaqofah/2012/02/07/17649/sejarah-peringatan-maulid-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam/
gambar : http://hananhiri.com/maulid-nabi-muhammad.html

0 komentar

Silahkan Beri Komentar Saudara...

Popular Posts

Support kontes SEO FBI-BET.COM TARUHAN BOLA CASINO SBOBET ONLINE BONUS 100% ALL PRODUK