Sunnah dan Bidah Bulan Muharam ~ Sesungguhnya termasuk kemuliaan bulan pertama (Muharram) dari
bulan-bulan Qomariyyah lainnya adalah penyandaran Nabi Shallallahu
Alaihi wasallam bulan ini kepada Rabb-nya, dan Beliau menyebutkan sifat ini dalam sabda Beliau Shallallahu Alaihi wasallam:
«أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمِ»(١-
أخرجه مسلم كتاب «الصيام»: (1/520)، رقم: (1163)، وأبو داود كتاب «الصوم»،
باب في صوم المحرم: (2429)، والترمذي كتاب «الصلاة»، باب ما جاء في فضل
صلاة الليل: (438)، وأحمد في «مسنده»: (2/344)، من حديث أبي هريرة رضي الله
عنه. )
“Puasa yang paling utama setelah ramadhan adalah bulan Allah (Al-Muharram). “
Fadhilatus Syaikh Doktor Abu Abdil Mu'iz Muhammad Ali Firkous Hafizhahullah Ta'ala
Fadhilatus Syaikh Doktor Abu Abdil Mu'iz Muhammad Ali Firkous Hafizhahullah Ta'ala
الحمد لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على مَن أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدِّين، أمَّا بعد:
Sesungguhnya termasuk kemuliaan bulan pertama (Muharram) dari
bulan-bulan Qomariyyah lainnya adalah penyandaran Nabi Shallallahu
Alaihi wasallam bulan ini kepada Rabb-nya, dan Beliau menyebutkan sifat
ini dalam sabda Beliau Shallallahu Alaihi wasallam:
«أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمِ»(١-
أخرجه مسلم كتاب «الصيام»: (1/520)، رقم: (1163)، وأبو داود كتاب «الصوم»،
باب في صوم المحرم: (2429)، والترمذي كتاب «الصلاة»، باب ما جاء في فضل
صلاة الليل: (438)، وأحمد في «مسنده»: (2/344)، من حديث أبي هريرة رضي الله
عنه. )
“Puasa yang paling utama setelah ramadhan adalah bulan Allah (Al-Muharram)"
(Dikeluarkan Muslim, kitab Ash-Shiyam:1/520, No:1163. Abu Dawud kitab
Ash-Shaum Bab: Shaumul Muharram, No:2429. At-Tirmidzi kitab Ash-Shalah
bab : ma jaa fifadhli shalaatil lail :438, Ahmad dalam musnadnya
(2/344), dari hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu)
Merupakan hal yang telah dimaklumi bahwa Allah tidak menyandarkan
kepadanya kecuali makhluk-makhluknya yang memiliki kekhususan sebagai
bentuk keutamaan dan kemuliaan. Berkata As-Suyuthi rahimahullah :
“Aku ditanya: mengapa dikhususkan bulan Muharram dengan ucapan mereka
“bulan Allah Tabaraka wa Ta'ala” tanpa bulan lain, padahal diantara
bulan tersebut ada yang menyamainya dalam hal keutamaan atau melebihinya
seperti bulan ramadhan?
Maka Akupun mendapati jawabannya adalah : Bahwa nama ini merupakan
nama islamnya bulan ini berbeda dengan bulan-bulan lainnya dizaman
jahiliyyah. Nama bulan Muharram dimasa jahiliyyah adalah shafar awal,
lalu yang berikutnya disebut shafar tsani. Tatkala islam datang, Allah
memberinya nama Muharram. Maka disandarkan kepada-Nya karena sebab ini.
Ini merupakan faedah berharga yang aku lihat dalam “al-jamharah”.
(Ad-Dibaj syarah shahih Muslimbin Al-Hajjaj,As-Suyuthi:3/352)
Dibenci menyebutkan bulan Muharram dengan sebutan Shafar, sebab hal
itu merupakan kebiasaan jahiliyah, sebagaimana yang disebutkan
An-Nawawi. (Al-Adzkar, An-Nawawi: 364)
Mungkin juga termasuk dari kebiasaan mereka bahwa mereka menyebut
bulan Muharram dan Shafar secara bersamaan dengan lafazh Shafarain (dua
bulan Shafar) sebagai penyebutan dominan, bukan karena Muharram sebagai
nama yang baru muncul. Berkata Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah:
Sesungguhnya nama “bulan muharram”, pada zaman jahiliyyah disebut
“shafar awal”, dan penamaan Muharram merupakan istilah islam. Ini
merupakan pendapat sebagian ahli bahasa, dan aku menyangka ada
ketersamaran, sebab perubahan nama-nama yang bersifat umum akan
menyebabkan pengkaburan yang tidak dikehendaki oleh syari'at. Bukankah
kalian mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam bertanya
pada saat berkhutbah di haji perpisahan (haji wada'):
hari apakah ini?
Perawi (yaitu sahabat Nufai' bin Al-Harits radhiallahu anhu berkata:
kamipun diam sehingga kami menyangka bahwa Beliau akan menyebut nama
yang bukan namanya . Maka Beliau berkata: bukankah ini bulan dzul
hijjah? kami menjawab: benar. Maka Rasulullah Shallallahu alaihi
wasallam bersabda:
فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ
حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ
“sesungguhnya darah-darah kalian, harta-harta kalian, dan kehormatan
kalian adalah haram diantara kalian, seperti mulianya hari kalian ini,
pada bulan kalian ini, pada negeri kalian ini…. “
(dikeluarkan Bukhari kitab Al-ilmu, Bab: qaulun Nabi Shallallahu
ALaihi Wa Aalihi Wasallam “rubba muballaghin au'a min sami')(1/25),
Muslim kitab Al-Qasamah wal muharibin wal qishash (2/799), No:1679),
dari hadits Abu Bakrah dan namanya: Nufai' bin Al-Harits radhiallahu
anhu)
Lalu beliau menyebut disela-sela khutbah bulan-bulan haram dimana
Beliau berkata: Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Muharram, dan Rajab Mudhar
yang terdapat antara Jumada dan Sya'ban. Kalaulah seandainya nama
Muharram merupakan nama yang baru, tentunya Beliau akan menjelaskannya
kepada orang-orang yang hadir yang datang dari berbagai daerah yang
jauh, sebab kejadian seperti ini jika seandainya Beliau menyebutkannya
(sebagai nama baru), tentu akan dinukil oleh manusia. Namun mereka
menyebutkan bersama bulan Safar bersamanya dengan lafazh “shafarain”
sekedar penyebutan dominasi. “
(Mu'jam al-manahi al-lafzhiyyah, Bakr bin Abdillah Abu Zaid: 341-342, dengan sedikit perubahan).
Setelah mengetahui hal ini, maka perlu diketahui bahwa tidak ada nash
yang syar'i yang shahih tentang awal bulan Allah Muharram yang
menetapkan kekhususan dzikir dan do'a, umrah, dan berpuasa pada hari
pertama pada awal tahun dengan niat membuka tahun hijriyyah dengan
berpuasa, dan tidak pula menutup tahun dengan berpuasa dengan niat
berpisah dengan tahun hijriyyah. Apa yang datang dari hadits-hadits
tentang hal ini adalah palsu dan dibuat-buat atas nama Nabi Shallallahu
Alaihi Wa aalihi wasallam, diantara hadits palsu adalah:
«من صام آخِرَ يومٍ من ذي الحجة وأول يوم من المحرَّم، ختم السنة الماضية وافتتح السنة المقبلة بصوم، جعل اللهُ له كفارة خمسين سنة»
“barangsiapa yang berpuasa pada akhir hari dibulan dzulhijjah dan
awal hari bulan Muharram, dia menutup tahun yang lama dan membuka tahun
baru dengan berpuasa, maka Allah akan menjadikan baginya penebus dosa
selama limapuluh tahun. “
(Lihat: Al-Lala'il mashnu'ah, As-Suyuthi: 2/108, Tanzih Asy-Syari'ah,
Al-Kinani (2/148), Al-Fawaaid Al-majmu'ah, Asy-Syaukani:96)
Sebagaimana tidak shahih pula dalam syari'at menghidupkan awal hari
dibulan muharram dengan shalat, dzikir dan do'a, atau yang semisalnya.
Berkata Abu Syamah rahimahullah:
«ولم يأت شيءٌ في أول ليلةِ المحرَّم، وقد فتشت فيما نقل من الآثار
صحيحًا وضعيفًا، وفي الأحاديث الموضوعة فلم أر أحدًا ذكر فيها شيئًا، وإني
لأتخوَّف -والعياذ بالله- من مُفترٍ يختلق فيها»
“tidak ada satupun penjelasan tentang awal malam bulan muharram,
sungguh aku telah memeriksa berbagai penukilan berupa atsar-atsar yang
shahih maupun lemah, dan bahkan hadits-hadits yang palsu, saya tidak
mendapati seorangpun menyebutkan satupun tentangnya, dan sesungguhnya
aku khawatir –wal'iyadzu billah- berasal dari pendusta yang
memalsukannya. “
(Al-ba'its alaa inkar al-bida' wal hawadits, Abu Syamah:239)
(Al-ba'its alaa inkar al-bida' wal hawadits, Abu Syamah:239)
www. salafybpp. com/index.
php?option=comcontent&view=article&id=77:bulan-muharram-antara-sunnah-dan-bidah&catid=27:fiqh&Itemid=30
sumber: www. darussalaf. or. id, penulis: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal
Gambar : http://www.rehanahmeds.com/2009/12/gham-e-hussain-muharam-ul-haram-images/ dan http://www.xitclub.com/muharram-ul-haram~2011~%D9%85%D8%AD%D8%B1%D9%85-%D8%A7%D9%84%D8%AD%D8%B1%D8%A7%D9%85/50955-10th-muharram-ul-haram-ashurah-latest-wallpapers-2011-a.html


0 komentar
Silahkan Beri Komentar Saudara...