Kalau yang menjawab saya, tanpa intervensi dari siapapun, dan tanpa terpengaruh dari anda, saya pasti menjawab YA.
Bagi sebagian orang, mungkin merasa dirinya itu lebih jelek, lebih miskin, lebih lemah, lebih bodoh, dan kelebihan lain yang mereka anggap buruk. Sedangkan sebagian lain merasa dirinya terlalu cantik, terlalu kaya, terlalu kuat, terlalu pintar, dan keterlaluan lain jika dibandingkan manusia lainnya.
Memang, makhluk yang diciptakan Tuhan di dunia ini (especially manusia) mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Seperti saya, yang mempunyai semua kelebihan seperti ganteng, kaya, pintar, dan kuat. Dan hanya mempunyai satu keterlaluan, yaitu terlalu suka memfitnah diri sendiri (???, hehehe).
Kemudian jika setiap orang berharap surga-Nya, apakah Tuhan masih Maha Adil jika memberi “modal” berbeda-beda pada tiap manusia ? Bukankah jika orang kaya dan miskin bersedekah, yang kaya bisa memberi lebih banyak ? Bukankah jika sama-sama menuntut ilmu dan mengajarkannya, yang pintar akan lebih mudah melaksanakannya ? Lalu, betapa beruntungnya anak seorang kyai dibanding anak seorang preman ?
Menurut blog yang pernah saya baca justru di situlah letak ke-Maha Adil-an Tuhan. Di mananya ?
Dimanakah Keadilan Tuhan ?
OK, yang pertama harus diingat adalah bahwa setiap nikmat adalah amanah dan ujian. Jika kita mendapatkannya lebih banyak daripada orang lain, maka pertanggungjawaban kita akan semakin banyak. Darimana asalnya, untuk apa, bagaimana niat, dan caranya ? Jadi, justru orang yang merasa dirinya lebih (jelek+miskin+lemah+bodoh+dll), adalah orang yang mendapat “modal” juga. Artinya bukan merasa rendah diri dengan “kelebihan”nya itu, tapi itu justru harus dijadikan semangat untuk mengalahkan orang yang mempunyai segala “keterlaluan”, dari segi amal dan ibadah.
Selanjutnya penting diingat bahwa apa yang didapat sebanding dengan apa yang diniatkan dan diusahakan. Semisal begini, ada dua orang yang bersedekah. Yang satu kaya banget dan satu miskin banget. Keduanya sama-sama ikhlas bersedekah Rp 5000,-, maka (hanya Tuhan yang Maha Tahu dan Maha Berkehendak) si miskin akan mendapat pahala lebih karena dengan uang tersebut dia dan keluarganya bisa makan sehari. Sedangkan bagi si kaya uang tersebut termasuk uang kecil yang masih banyak di dompetnya. Namun jangan merasa puas diri karena si miskin sanggup memberi sedekah dengan jumlah yang sama dengan si kaya, padahal Tuhan memberikan juga kesepatan dan potensi pada dia untuk menaikkan taraf hidupnya.
Tentu Tuhan tidak akan adil jika hambanya bisa masuk surga hanya dengan mempercayai bahwa Dia adalah Tuhan, serta dosa hambanya bisa terhapus dengan membayar sejumlah uang sebanding dosanya. Jika tuhan seperti ini, maka banyak orang kaya yang “pasti” masuk surga tetapi melakukan banyak dosa.
Contoh si kaya dan si miskin di atas dapat dibandingkan juga dengan kasus-kasus lain. Baik mana antara anak kyai dan preman yang sama-sama sholat tetapi sama-sama masih malas mengaji dan bersedekah ? sekali lagi hanya Tuhan yang Maha Tahu dan Maha Adil.

0 komentar
Silahkan Beri Komentar Saudara...