Akademisi Harus Menulis - Tulisan adalah sebuah wujud keajaiban dunia terhebat yang pernah ditemukan manusia. Dengan tulisan, informasi dan pengaruh yang disampaikan oleh Penulis akan dapat tersampaikan selama Pembaca mengerti apa makna dan maksud tulisan tersebut. Dengan kekuatan tulisan, seorang Penulis dapat mempengaruhi orang lain, negara lain, bahkan perkembangan zaman. Saya kira setelah menengok sejarah peradaban, anda tentu lebih paham dengan apa yang saya maksud dengan kekuatan tulisan.
Memang banyak cara yang dapat dilakukan oleh seorang akademisi untuk mengamalkan ilmunya. Pengajaran dan penelitian adalah dua contoh yang dapat dilakukan akademisi guna mewujudkan manfaat ilmunya. Namun menurut saya, menulis adalah sesuatu yang mutlak diperlukan. Sehebat apapun penelitian dan sepandai apapun orang yang telah kita ajari, masih jauh lebih berguna jika kita tambah dengan menulis. Anda tentu paham jika yang membutuhkan hasil penelitian tersebut bukan hanya peneliti, dan orang yang membutuhkan ilmu dari orang pandai bukan hanya orang-orang yang diajarkan. Dengan tulisan, rekaman sejarah akan tercatat, kelemahan dan kelebihan bisa kita pilih, keutamaan seseorang dapat kita teladani, dan satu hal kelebihan utama tulisan adalah tulisan lebih “abadi” dibandingkan dengan ingatan (siapapun).
Kemudian, apa lagi yang menjadikan seorang akademisi “malas” untuk menulis? Apakah ketidak-sempatan waktu karena “kesibukan lain”? Jika itu alasannya, saya akan berikan contoh menarik dari seorang guru besar Universitas Indonesia yang juga mantan diplomat di Amerika Serikat, Prof. Miriam Budiarjo. Beliau menulis buku “Dasar-Dasar Ilmu Politik”, sebuah buku simpel dipelajari tapi dengan isi berbobot. Yang luar biasa dari buku ini adalah, semuanya berasal dari kumpulan materi perkuliahan beliau selama setahun di FISIP UI ! Tanpa mengabaikan waktu untuk menulis buku, beliau hanya serius dalam membuat materi perkuliahan, dan akhirnya : terciptalah sebuah tulisan berbentuk buku yang bagus.
Tapi bagi mahasiswa misalnya yang mengatakan bahwa dirinya belum layak membuat tulisan, belum dapat menulis dengan baik dan benar, dan kebelum-mampuan yang lain dijadikan tumbal. Ingatlah!!! Tidak ada orang yang langsung bisa tanpa belajar kecuali beberapa manusia pilihan Tuhan. Jangan pernah menunggu memulai sesuatu karena merasa diri kita belum sempurna. Jangan menunggu diri kita menjadi lebih karena itu tidak pernah tercapai tanpa berusaha terus selagi kita kurang. Penulis sehebat apapun selama dia manusia, pasti dia tidak sempurna. Jadi selagi kita masih jauh dari sempurna, selama kita mempunyai sesuatu yang layak diberikan orang lain, Menulislah!!! Kecuali anda merasa tidak mempunyai apa-apa yang layak diberikan kepada orang lain, sekali lagi pikirlah apa kita layak menyebut diri sebagai seorang akademisi ?! {lamanbaca}
Seberapa paham dan mengertikah kita mengenai kekuatan tulisan dan seberapa pedulikah kita dengan kehidupan, dapat kita lihat dari seberapa banyak kita menulis. Ya, tulisan tidak akan pernah terwujud tanpa ada yang menulis. Walaupun banyak cara dan media untuk menulis, kesadaran tentang pentingnya menulislah yang akhirnya berperan dalam terwujudnya kegiatan tersebut.
Sebagai anggota masyarakat, akademisi “dianggap” lebih banyak mempelajari teori dan konsep kehidupan dibanding anggota masyarakat lain. Terserah itu mahasiswa, dosen, atau siapapun, selama mereka bergelut dengan kehidupan akademis, berarti mereka “diberi kesempatan” oleh anggota masyarakat yang lain untuk menimba dan membuat ilmu sebanyak-banyaknya. Kemudian, apakah arti ilmu-ilmu tersebut jika tidak diajarkan dan tidak bermanfaat bagi orang lain? Di sinilah letak kesadaran akademisi diperlukan. Bahwa mereka “diberi kesempatan” oleh masyarakat untuk memperoleh ilmu bukan untuk menjadi lebih kaya, pandai, berkuasa ataupun derajat kesombongan lainnya. Namun ilmu dan pengetahuan tersebut harus diutamakan untuk kepentingan masyarakat.
Memang banyak cara yang dapat dilakukan oleh seorang akademisi untuk mengamalkan ilmunya. Pengajaran dan penelitian adalah dua contoh yang dapat dilakukan akademisi guna mewujudkan manfaat ilmunya. Namun menurut saya, menulis adalah sesuatu yang mutlak diperlukan. Sehebat apapun penelitian dan sepandai apapun orang yang telah kita ajari, masih jauh lebih berguna jika kita tambah dengan menulis. Anda tentu paham jika yang membutuhkan hasil penelitian tersebut bukan hanya peneliti, dan orang yang membutuhkan ilmu dari orang pandai bukan hanya orang-orang yang diajarkan. Dengan tulisan, rekaman sejarah akan tercatat, kelemahan dan kelebihan bisa kita pilih, keutamaan seseorang dapat kita teladani, dan satu hal kelebihan utama tulisan adalah tulisan lebih “abadi” dibandingkan dengan ingatan (siapapun).
Kemudian, apa lagi yang menjadikan seorang akademisi “malas” untuk menulis? Apakah ketidak-sempatan waktu karena “kesibukan lain”? Jika itu alasannya, saya akan berikan contoh menarik dari seorang guru besar Universitas Indonesia yang juga mantan diplomat di Amerika Serikat, Prof. Miriam Budiarjo. Beliau menulis buku “Dasar-Dasar Ilmu Politik”, sebuah buku simpel dipelajari tapi dengan isi berbobot. Yang luar biasa dari buku ini adalah, semuanya berasal dari kumpulan materi perkuliahan beliau selama setahun di FISIP UI ! Tanpa mengabaikan waktu untuk menulis buku, beliau hanya serius dalam membuat materi perkuliahan, dan akhirnya : terciptalah sebuah tulisan berbentuk buku yang bagus.
Tapi bagi mahasiswa misalnya yang mengatakan bahwa dirinya belum layak membuat tulisan, belum dapat menulis dengan baik dan benar, dan kebelum-mampuan yang lain dijadikan tumbal. Ingatlah!!! Tidak ada orang yang langsung bisa tanpa belajar kecuali beberapa manusia pilihan Tuhan. Jangan pernah menunggu memulai sesuatu karena merasa diri kita belum sempurna. Jangan menunggu diri kita menjadi lebih karena itu tidak pernah tercapai tanpa berusaha terus selagi kita kurang. Penulis sehebat apapun selama dia manusia, pasti dia tidak sempurna. Jadi selagi kita masih jauh dari sempurna, selama kita mempunyai sesuatu yang layak diberikan orang lain, Menulislah!!! Kecuali anda merasa tidak mempunyai apa-apa yang layak diberikan kepada orang lain, sekali lagi pikirlah apa kita layak menyebut diri sebagai seorang akademisi ?! {lamanbaca}
sumber : my deleted blog
gambar : startinspiration.blogspot.com


0 komentar
Silahkan Beri Komentar Saudara...