Mengembalikan Jati Diri Bangsa dengan Penjajahan Nyata (kembali) ~ Saya
sampai berpikir demikan setelah memeriksa buku sejarah tentang
kehebatan persatuan bangsa ini dalam melawan penjajahan. Pada awalnya
setiap daerah berjuang untuk melawan kebejatan moral imperialis di
daerahnya masing-masing. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para
pahlawan bangsa yang telah gigih berjuang dan rela berkorban membela
kebenaran, namun memang kenyataannya selama tiga abad bangsa ini masih
dicengkeram oleh kebiadaban serakawan (penjajah).
Kata secara nyata
perlu digarisbawahi untuk lebih menegaskan bahwa bangsa ini pada
dasarnya masih terjajah. Jenis imperialisme modern bukan barang baru dan
rahasia telah menguasai bangsa ini. Dunia asing telah semena-mena
menjarah kekayaan bangsa disebabkan kelalaian dan keterbuaian kita
sendiri dengan sebuah kata, yaitu “merdeka”.
Dengan masih merasa merdeka, rakyat Indonesia
belum banyak dewasa untuk mengungkapkan dan meluapkan semangat
kemerdekaannya. Sehingga masih banyak generasi bangsa yang masih ingin
melawan penjajah (karena menganggap penjajah tidak ada) menjadi melawan
bangsanya sendiri. Mungkin itu juga yang menjadi pemikiran pelaku bom
bunuh diri, wallahua`lam.
Saya mengambil contoh dalam dunia olah raga, sepak bola khususnya. Ketika timnas bertanding, sejelek apapun timnas Indonesia bermain, rakyat Indonesia
tetap mendukung dengan semangat tanpa melihat apakah dia The Jak,
Viking, Bonek, Aremania, dsb. Walaupun (saking parahnya) masih terjadi
insiden kurang sportif, namun frekuensinya sangat sedikit. Namun ketika
klub2 di Indonesia
bertanding. Kesalahan sedikit apapun menjadi penyebab terjadinya
kerusuhan suporter, pemain, offisial, dsb. Contoh tersebut tidak hanya
berlaku di dunia olah raga saja. Jika kita melihat dan mengingat, di Indonesia hampir selalu terjadi permusuhan di daerah (antaretnis, antarsuku, antaragama, dsb). Di dunia ekonomi Indonesia yang pada teorinya berpaham PANCASILA
(tapi pada praktiknya lebih ke liberal), banyak terjadi saling sikut,
tonjok, tendang dsb demi kelancaran usaha. Hal itu kebanyakan terjadi
antarpengusaha dalam negeri. Justru investor dan perusahaan asing
menjadi ndoro dalam negara (yang seharusnya) kaya ini.
Di sinilah saya ingin menuliskan idiom bangsa ini : tidak ada persatuan abadi, yang ada adalah kepentingan abadi. Entah itu benar ataukah (dan semoga saja) tidak. Pikirkan dan renungkan sendiri masalah ini.
Bangsa ini memang “masih” kaya. Namun sepertinya penjajah-penjajah tidak mau lagi menjajah bangsa ini secara nyata.
Mereka tahu kekuatan bangsa ini ketika bersatu. Mereka merasa ngeri
dengan keutuhan bangsa ini. Mereka sadar bahwa jika kita dijajah dan
disiksa, maka kekuatan senasib sepenanggungan (entah karena terpaksa dan
kepepet atau karena keikhlasan) dapat menghancurkan rudal-rudal dan pesawat mereka.
Mereka
paham bahwa cukup dengan kesenangan sementara, perdamaian semu,
keagungan maya, dapat meruntuhkan bangsa ini dengan sendirinya. Kita
tahu mereka adalah bangsa-bangsa pandai yang dapat meneliti kelemahan
dan kekuatan bangsa lainnya. Sehingga dapat memanfaatkannya dengan baik
demi kepentingan mereka. Lalu, kita ini bangsa seperti apa? Apakah kita
perlu dijajah secara nyata lagi untuk menemukan dan mengembalikan jati diri bangsa kita?
Oya,,, ada kata-kata legendaris yang sudah mulai dilupakan rakyat Indonesia karena sudah tidak diajarkan lagi :
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang cinta perdamaian. Akan tetapi rakyat Indonesia lebih mencintai kemerdekaan.
Hidup Rakyat Indonesia....!!!!
sumber : http://re-saintazkiya.blogspot.com/2009/08/mengembalikan-jati-diri-bangsa-dengan.html

0 komentar
Silahkan Beri Komentar Saudara...