Di dalam konsep anggaran perlu dibedakan antara penerimaan versus pendapatan, dan pengeluaran versus belanja. Yang pertama, penerimaan publik tidak selalu berupa pendapatan publik. Karena ada beberapa aktivitas yang mengakibatkan aliran dana masuk yang tidak menambah kekayaan neto negara, seperti penerimaan kembali anggaran pengeluaran yang tidak terpakai. Sedangkan pendapatan publik pasti menyebabkan kenaikan kekayaan neto negara, contoh penerimaan pajak.
Berikutnya, pengeluaran publik tidak selalu identik dengan belanja publik. Pengeluaran publik seperti pembayaran pokok hutang akan diikuti dengan pengurangan liabilitas publik sehingga tidak mengurangi kekayaan neto negara. Belanja publik pasti mengurangi kekayaan neto negara, misalnya pembayaran bunga hutang.
2. Pengertian Anggaran
Anggaran adalah suatu rencana keuangan yang merupakan perkiraan tentang apa yang akan dilakukan di masa yang akan datang.
3. Hal-Hal yang Diuraikan dalam Anggaran
Setiap anggaran belanja menguraikan berbagai fakta yang khusus (spesifik) tentang apa- apa yang direncanakan untuk dilakukan oleh unit organisasi yang menyusun anggaran belanja tersebut pada periode waktu yang akan datang. Dalam anggaran, dipaparkan adanya rencana pengeluaran yang didasarkan pada ekspektasi pendapatan. Rencana pengeluaran sebaiknya mengindikasikan juga urutan skala prioritas serta ekspektasi kualitas dan kuantitas layanan.
4. Jenis-Jenis Anggaran
- Anggaran belanja line-item (line-item budgeting)
Jenis anggaran belanja yang hanya membuat daftar barang-barang atau obyek- obyek, disebut anggaran obyek pengeluaran atau anggaran belanja line-item. Anggaran memuat perkiraan dari pengeluaran uang. Pengeluaran tersebut harus jelas maksud dan tujuannya. Apabila dikatakan untuk membeli barang, hal ini adalah sesuatu hal yang masih sangat umum, disebabkan setiap instansi atau Departemen mempunyai kebutuhan barang yang berbeda. Oleh karena itu harus disebutkan secara khusus atau spesifik, yaitu obyek-obyek atau item-item apa yang akan dibeli dengan uang yang dianggarkan itu.
- Angaran belanja berprogram (a program budgeting)
Suatu anggaran yang berorientasi kepada maksud dan tujuan untuk apa uang dibelanjakan, disebut anggaran berprogram. Anggaran berprogram mengelompokan pengeluarannya ke dalam program-program.
Penggunaan kata fungsi, kegiatan, atau misi, kadang-kadang diperlukan sebagai pengganti program-program. Dengan kata lain, suatu anggaran belanja yang disusun sesuai dengan tujuan, fungsi-fungsi dan kegiatan-kegiatan pengeluarannya disebut anggaran berprogram (a program budget).
- Anggaran berbasis kinerja (performance budgeting).
Anggaran belanja berbasis kinerja (performance budget) dibangun atas anggaran berprogram. Anggaran belanja berbasis kinerja ini hanya menambahkan keterangan berapa banyak jenis pelayanan yang akan disediakan untuk melaksanakan suatu tujuan.
- Zero-based budgeting
Tidak seperti kebanyakan proses pengganggaran yang jumlah dan rincian kegiatannya didasarkan atas anggaran tahun sebelumnya seperti dinaikkan atau sama, zero-based budgeting menggunakan paket-paket anggaran. Seluruh program kegiatan pemerintah harus dijustifikasi setiap tahun dengan tidak mendasarkan atas kemiripan kegiatan yang telah selenggarakan tahun sebelumnya. Konsep ini banyak didukung oleh para pemerhati anggaran yang tidak menginginkan adanya pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu oleh pemerintah. Namun dalam prakteknya, konsep penganggaran ini sulit dilaksanakan sehingga tidak banyak digunakan.
5. Kelebihan dan Kelemahan “Line Items”
Kelebihan sistem anggaran line-item ialah mudah mengawasi penggunaanya, karena mencantumkan dengan jelas barang-barang atau obyek-obyek di mana uang itu dibelanjakan. Setiap barang atau kelompok barang dibuat daftarnya disertai angka nilai rupiah, sehingga dari catatan tersebut dapat dilihat secara tepat, apakah anggaran belanja itu dipatuhi dengan baik atau tidak. Dengan demikian orang yang bertanggung jawab dalam membelanjakan uang itu mudah diperiksa melalui keharusan mengikuti pengeluaran sebagaimana yang telah direncanakan.
Sedangkan kelemahan sistem anggaran line-items adalah sulit menyederhanakan berbagai jenis barang untuk dikelompokkan. Di samping itu, terdapat perbedaan pengelompokan barang-barang antara unit atau organisasi yang satu dengan unit atau organisasi barang yang diperlukan setiap organisasi tersebut dan tidak didasarkan atas perencanaan yang menyeluruh dan berkesinambungan, karena perkiraan kebutuhan untuk masa mendatang tidak dikaitkan dengan maksud dan tujuan yang lebih luas.
6. Kelebihan dan Kelemahan Anggaran Berprogram
Kelebihan sistem anggaran berprogram adalah :
1) Memungkinkan kita membuat daftar prioritas dalam memutuskan
kegiatan-kegiatan yang akan dibelanjakan;
2) Lebih informatif, karena dapat diketahui tingkat kepentingan tujuan
pembelanjaan itu, bukan perincian yang sempit sifatnya.
Dengan anggaran berprogram, kita dapat mengetahui tujuan serta maksud membelanjakan uang tersebut. Kemudian, kita juga dapat menetapkan tingkat prioritas untuk membedakan bahwa program yang satu lebih penting dari program yang lain. Oleh karena itu akan terdapat program yang mendapat dana jauh lebih sedikit dari yang lain, sekalipun ia dianggap fungsi yang lebih penting. Dengan demikian tak cukup kita menggunakan suatu anggaran yang hanya menyebutkan daftar barang-barang yang akan dibelanjakan, sebab suatu program terdiri atas unsur-unsur program, yang merupakan bagian program yang lebih luas.
Sedangkan kelemahan anggaran berprogram ialah kurang mengandung arti pengawasan didalamnya, dibandingkan dengan anggaran line-item (line-item budget). Hal ini disebabkan karena dalam anggaran berprogram, anggaran belanja sistem hanya mencantumkan X rupiah untuk belanja yang satu dan Y rupiah untuk belanja yang lain. Misalnya X rupiah untuk kepentingan ketertiban umum, yang tidak jelas obyek-obyeknya, sebab dari arti ketertiban umum itu dapat pula untuk pembangunan prasarana fisik (kantor) yang mewah bagi kepentingan ketertiban umum yang menyimpan dari tujuan yang diharapkan.
7. Salah Satu Cara Mengatasi Kelemahan Anggaran Berprogram
Salah satu cara untuk mengatasi kelemahan anggaran berprogram dalam segi pengawasan dan tingkat keluwesan (flexibility) adalah dengan cara mengkombinasikan sifat anggaran berprogram dengan sifat anggaran berdasarkan anggaran line-item. Dengan demikian anggaran berprogram yang mempunyai perincian line-item dikaitkan dengan tujuan dari pada program. Sekalipun demikian dapat disebut anggaran berprogram, disebabkan tidak hanya sekedar mendaftar barang-barang dan jasa-jasa yang akan dibelanjakan, tetapi penyusunan dana itu disesuaikan dengan program-programnya.
8. Hal-hal yang Perlu Dilakukan dalam Menyusun Anggaran
Ada dua hal yang harus dilakukan dalam menyusun anggaran belanja berbasis kinerja, yaitu, pertama, harus tersedia ukuran hasil kerja (output) yang realistis, artinya berapa banyak suatu hasil yang dapat dibuat dengan biaya itu. Jelasnya unit ukuran yang digunakan harus menguraikan secara nyata (konkrit) apa yang akan dikerjakan. Kedua, langkah selanjutnya adalah menetapkan dan mengukur suatu tingkat pelayanan yang wajar.
9. Konsep PPBS (Planning Programming and Budgeting System)
PPBS dimaksudkan sebagai usaha memperbaiki sistem penyusunan anggaran belanja pemerintah. Dalam membicarakan teori PPBS, dapat dijelaskan melalui konsep-konsep sebagai berikut:
- Tujuan
- Output
- Pengukuran biaya dan manfaat kegiatan pemerintah
- Analisis yang terbuka dan jelas
10. Kelebihan Penentuan Tujuan
Adapun kelebihan penentuan tujuan, ialah:
1) Berguna untuk mengukur efisiensi dan produktivitas dalam pengertian manajemen.
2) Berguna dalam menilai keputusan-keputusan alokasi sumber.
3) Berguna bagi tujuan akhir dari kegiatan-kegiatan sesuatu pemerintahan.
11. Siklus Anggaran
- Penyusunan Anggaran (budget formulation)
- Pengesahan Anggaran (budget enacment)
- Pelaksanaan dan Pengawasan Anggaran (budget execution)
- Pemeriksaan dan Pertanggungjawaban Anggaran (budget auditing and assesment)
12. Indikator Ekonomi dalam Pembahasan Anggaran
Beberapa indikator ekonomi yang biasa diikutkan dalam pembahasan anggaran antara lain: ekspektasi pertumbuhan ekonomi, inflasi dan karakteristik makro ekonomi lainnya seperti harga minyak mentah dunia.
13. Tiga Cara dalam Menyusun Anggaran
Ada tiga cara dalam menyusun anggaran yaitu:
1. Bottom – Up (dari bawah ke atas)
Pada cara ini, penyusunan anggaran dimulai dari unit organisasi yang paling bawah kemudian diteruskan secara berjenjang ke unit organisasi yang lebih tinggi. Dalam mengajukan usulan, unit organisasi yang paling bawah harus memperhitungkan besar kecilnya kegiatan yang akan dilakukan.
2. Top – Down (dari atas ke bawah)
Cara ini merupakan kebalikan dari cara bottom – up. Pada cara ini, unit organisasi yang paling tinggi menetapkan batas tertinggi (plafond) anggaran yang dapat dibelanjakan oleh unit organisasi yang lebih rendah. Unit organisasi yang telah ditetapkan batas anggarannya tidak boleh melakukan pengeluaran melebihi dari batas tersebut
3. Campuran
Cara ini merupakan gabungan dari 2 cara di atas.
14. Pengawasan Anggaran secara Kelembagaan
Pengawasan anggaran secara kelembagaan dibagi dalam 2 bagian yaitu:
1. Pengawasan intern, yaitu pengawasan yang dilakukan oleh unit inspeksi yang betugas melakukan pengawasan di lingkungan departemen yang bersangkutan.
2. Pengawasan ekstern, yaitu pengawasan yang dilakukan oleh aparatur pengawasan dari luar departemen.
15. Pembagian Anggaran
Menurut subyeknya, pengawasan dapat dibagi menjadi:
1. Pengawasan melekat (waskat), yaitu pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya.
2. Pengawasan fungsional (wasnal), yaitu pengawasan yang dilakukan oleh institusi.
3. Pengawasan legislatif (wasleg), yaitu pengawasan yang dilakukan oleh Dewan Legislatif. Di Indonesia, BPK merupakan lembaga tinggi negara yang melakukan pengawasan terhadap pemerintah.
4. Pengawasan masyarakat, yaitu pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat yang disampaikan secara lisan maupun tertulis kepada pemerintah.
Menurut caranya, pengawasan dapat dibagi menjadi:
1. Pengawasan langsung, yaitu pengawasan yang dilakukan on the spot melalui inspeksi, sidak, maupun pemeriksaan.
2. Pengawasan tidak langsung, yaitu pengawasan yang dilakukan berdasarkan laporan dari pejabat yang bersangkutan, aparat pengawasan fungsional, aparat pengawasan legislatif, atau dari masyarakat.
Menurut waktunya, pengawasan dapat dibagi menjadi:
1. Pengawasan sebelum kegiatan dimulai, yang disebut sebagai pengawasan preventif
2. Pengawasan selama kegiatan dilaksanakan, yang disebut sebagai pengawasan represif.
3. Pengawasan setelah kegiatan dilaksanakan, yang disebut sebagai post audit.
16. Masalah Umum Anggaran
Setiap siklus anggaran memiliki problem tersendiri. Problem pada penyusunan dan pembahasan lebih banyak akibat adanya campur tangan politik. Sedangkan pada pelaksanaan dan pemeriksaan lebih mengarah pada isu-isu manajemen dan akuntansi. Untuk mencapai hasil yang diharapkan, kombinasi konflik antara manajemen dan politik perlu diakomodasi secara memadai.
Pada umumnya negara berkembang, problem anggaran yang dihadapi meliputi penentuan asumsi-asumsi ekonomi dan indikator fiskal. Negara-negara tersebut seperti Indonesia, menghadapi kerentanan tehadap fluktuasi perdagangan dunia, menentukan jumlah ideal penyerapan pendapatan publik melalui pajak, koordinasi pembangunan terencana dalam jangka panjang serta berkesinambungan. Beberapa permasalahan mungkin diakibatkan oleh faktor- faktor diluar kontrol, akan tetapi banyak juga ketidakefisienan yang disebabkan oleh praktek penyusunan anggaran yang tidak fair. Sebagian anggaran mengalami kebocoran atau penggunaan yang tidak selaras dengan pembangunan perekonomian berkesinambungan. Hal tersebut dapat juga disebabkan oleh lembaga-lembaga legislatif dan pemeriksa yang tidak independen atau tidak mempunyai kapasitas sebagaimana mestinya.

0 komentar
Silahkan Beri Komentar Saudara...